Tampilkan postingan dengan label Pendidikan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan anak. Tampilkan semua postingan

Ayah Ibu, Mereka Butuh Doamu

We Share Because We care


              Ayah Ibu, ketika melihat anak kita nakal dan bandel, apakah yang kita lakukan? Tentu sebagian besar dari kita berusaha mencari solusinya, baik dengan membaca buku, browsing melalui internet, menghadiri seminar parenting, atau mengikuti klub parenting ini dan itu. Tetapi, pernahkah terpikir pada diri kita, bahwa solusi yang paling jitu dan paling penting dalam memperbaiki anak-anak kita adalah … mendoakan mereka.

              Ayah Ibu,  doa adalah sarana terpenting dalam mendidik anak, sekaligus merupakan hal termudah yang mampu dilakukan kedua orang tua. Akan tetapi, banyak orang tua yang lalai dari hal ini. Banyak orang tua yang tertipu dengan kemampuannya, pengetahuannya, amal sholihnya, atau usahanya saja. Padahal, di tangan Allah lah segala urusan. Dialah yang mampu membolak balikkan hati anak-anak kita, sehingga mereka menjadi sholih atau durhaka. Siapakah di antara kita yang merasa lebih sholih dan lebih sabar dibandingkan dengan Nabi Nuh ‘alaihissalam? Namun, ternyata Allah menguji beliau dengan anak yang kafir. Begitulah, di tangan Allah sajalah kebaikan dan petunjuk.

              Ayah Ibu, janganlah tertipu dengan kesholihan, kecerdasan, dan kemampuan kita. Contohlah Nabi Ibrahim, kekasih Allah dan salah satu rasul ‘ulul azmi, yang tidak pernah merasa sombong dengan keshalihannya. Sebaliknya, ia tetap berdoa merendahkan diri di hadapan Allah untuk keshalihan anak-anaknya, dengan do’a- doa’yang diabadikan dalam Al Qur’an:

 وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
Artinya: “ dan jauhkanlah aku dan anakku dari (perbuatan) menyembah patung”.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَ تَقَبَّل دُعَاءِ
Artinya : “Wahai Rabbku, jadikanlah aku orang yang mendirikan sholat, dan juga keturunanku. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doa kami”.

              Ayah Ibu, para salaf dahulu pun sangat bersemangat mendoakan anak-anak mereka. Fudhoil bin Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar, berdo’a untuk anaknya yang masih kecil: “Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa kau telah berusaha keras mendidik anakku Ali, dan aku tidak mampu, maka didiklah dia untukku”. Maka Allah pun mengabulkan doanya, dan menjadikan Ali bin Fudhoil sebagai ulama besar, setara dengan ayahnya. Begitu pula Said ibnul Musayyab, beliau berkata : “Sesungguhnya bila aku ingat anakku dalam sholatku, maka aku akan memperpanjang sholatku”. Maksudnya adalah ia memperbanyak doa untuk anaknya di dalam sholatnya. Dan berkata juga salah seorang yang sholih kepada anaknya :” Wahai anakku, sesungguhnya aku memperbanyak sholatku untukmu”.  
    
              Ayah Ibu, janganlah pelit untuk mendoakan kebaikan bagi anak-anak kita, karena doa kita untuk mereka adalah doa yang mustajab. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ 
Artinya : “Ada tiga doa yang pasti dikabulkan oleh Allah, tanpa ada keraguan, yaitu : doa orang yang terdzolimi, doa orang yang bepergian jauh (musafir), dan doa orang tua untuk anaknya” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shohih Jami’ Ash Shoghir)
Bahkan Rasulullah juga menyebutkan dalam hadist yang lain :

 ثلاث دعوات لا ترد دعوة الوالد لولده ، ودعوة الصائم ، ودعوة المسافر
Artinya : “Ada tiga doa yang tidak akan ditolak, yaitu doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa (sampai ia berbuka), dan doanya musafir”. ( HR. Abul hasan Al Mahruwiyah dishahihkan oleh Al Albani dalam Shohih Jami’). Maka, manfaatkanlah keutamaan ini dengan sebaik-baiknya. Berdoalah sebelum, disaat, dan setelah melakukan seluruh usaha pendidikan anak. Jangan sampai kita  baru berdoa  bila kita telah gagal dalam mendidik anak kita!

              Ayah Ibu, doakanlah kebaikan untuk anak-anak kita, dan jangan pernah mendoakan keburukan untuk mereka. Rasulullah bersabda:
 لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
Artinya : “Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian sendiri, jangan mendoakan keburukan untuk anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan untuk harta kalian. Janganlah kalian (berdoa keburukan) bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa dari Allah, lalu Allah pun mengabulkannya untuk kalian.” (HR Muslim. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 1500.)

Berapa banyak  kenakalan, dan kedurhakaan anak sebenarnya adalah akibat dari doa yang pernah diucapkan orang tuanya sendiri? Seseorang pernah mengadu pada Abdullah bin Mubarok rahimahullah tentang anaknya yang durhaka, maka Ibnul  Mubarak bertanya: “Apakah kamu pernah mendoakan kejelekan untuknya?”, ia menjawab “ Iya”, maka Ibnul Mubarok berkata: “Pergilah, karena engkau  sendiri yang telah merusaknya”.

            Ayah Ibu, kita semua pasti memimpikan ketika kita tua nanti, anak-anak yang dulu mungil dan lemah itu akan mendoakan kita. Maka, jadilah contoh bagi mereka dengan banyak mendoakan mereka. Biasakanlah mengucapkan doa bagi mereka, bahkan dalam perkataan sehari-hari. Bila mereka berbuat baik, biasakanlah mengatakan : ‘Baarakallahu fiik (semoga Allah memberkahimu) atau Jazakallahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Sebaliknya, bila mereka berbuat keburukan katakanlah: “Hadaakallahu” (Semoga Allah memberimu petujuk), atau “Ashlahakallahu” (semoga Allah memperbaikimu). Membiasakan doa dalam perkataan sehari-hari juga mendidik anak untuk memiliki adab yang baik, berlemah lembut dan suka mendoakan orang lain. Sebaliknya, gampang memarahi dan melaknat anak akan mendidik mereka menjadi pemarah, kasar, dan mudah melaknat pula.

            Karena itu Ayah Ibu, tahanlah lisan kita dari kalimat-kalimat yang buruk bagi buah hati kita sendiri. Contohlah teladan terbaik sepanjang zaman, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah mendoakan keburukan bagi orang lain. Dikisahkan bahwa suatu ketika, Thufail bin Amr Ad Dausy dan para sahabatnya datang kepada Nabi, mereka mengadu: “Ya Rasulullah sesungguhnya suku Daus bermaksiat dan enggan (untuk taat), maka doakanlah kecelakaan untuk mereka, maka Rasulullah menjawab: “ Ya Allah berilah petunjuk kepada suku Daus, dan datangkanlah mereka”. ( HR. Bukhori dan Muslim)

            Ya Allah,  berikanlah kepada kami kelapangan hati dan kemudahan untuk banyak berdoa bagi kebaikan anak-anak kami….



Ummu Sholeh
@ Madinatul Qur’an


Nak, Pakaikan Aku Jubah Kemuliaan di Surga

We Share Because We care


       Pernahkah anak Anda memenangkan suatu perlombaan? Bagaimana perasaan Anda sebagai orang tua ketika itu? Terlebih lagi bila panitia turut memanggil anda dan memberikan penghormatan kepada Anda? Pasti anda sangat bahagia sekaligus  terharu, segala kesulitan dan kepenatan merawat dan mendidik anak seakan terbayar lunas saat itu juga. Sekarang, bayangkan apabila kebanggaan dan penghargaan itu anda rasakan hari kiamat, saat kebanyakan manusia sangat terhina , dan pemberi penghargaan itu adalah Allah 'Azza Wa Jalla. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran.’ (Riwayat al-Hakim)

Mengapa Harus Sejak Anak-Anak?
Usia emas dalam menghafal Al Qur'an adalah usia 3-4 tahun atau mungkin kurang karena beberapa alasan:
·         Pada usia ini anak memiliki kemampuan meniru yang sangat baik, baik dari yang dilihat atau di dengar.
·         Belajar dimasa kecil seperti mengukir di atas batu sedangkan belajar di masa tua seperti mengukir di atas air.
·         Al Qur'an dapat dilupakan dengan sebab dosa, sedangkan anak-anak belum berdosa sehingga akan mudah menghafal dan juga tidak mudah lupa, biidznillah.

Beberapa Tahapan dan Cara Agar Anak Mudah Menghafal Al Qur'an:
·         Niatkan dan berdoa kepada Allah untuk memiliki anak yang sholih sekaligus penghafal Al Qur'an. Hilangkan niat-niat duniawi seperti untuk berbangga bangga, atau sekedar agar mendapatkan ijazah dan pangkat.
·         Memulai memperdengarkan bacaan Al Qur'an sejak anak dalam kandungan, baik dengan memperbanyak membaca dengan suara keras atau memperbanyak menyetel kaset murottal, karena banyak sekali penelitian yang menunjukkan bahwa janin sangat terpengaruh oleh apa yang ia dengar, terutama dari ibunya.
·         Masuklah ke dunia anak-anak dan sebisa mungkin menghindari perintah langsung, karena anak belum memiliki kesadaran sendiri. Ajaklah dengan kata-kata yang menariknya untuk menghafal. Ikutlah bermain bersamanya sambil mentalqinkan alquran.
·         Sebelum memulai menghafal, buatlah ikatan yang erat antara orang tua dan anak atas dasar kasih sayang, cinta dan pergaulan yang hangat. Sehingga anak pun mencintai menghafal Al Qur'an dan bukan karena takut atau terpaksa.
·         Memperlakukan anak sesuai tabiatnya, misalnya anak yang menyukai permainan bongkar pasang orang tua dapat menempelkan susunan beberapa ayat pendek pada mainannya dan memintanya mengurutkan ayat, anak yang suka mendengarkan kaset orang tua dapat menyetelkan kaset atau perangkat HP di sampingnya sembari ia bermain, atau anak yang menyukai cerita orang tua dapat memulai hafalan dengan membacakan sebagian kisah yang terkandung dalam surat yang akan dihafal.
·         Memahami apa yang paling menarik bagi anaknya sehingga bisa mengambil perhatiannya
·         Membuat waktu-waktu dan tempat khusus untuk menghafal Al Qur'an dan menjauhkan segala hal yang dapat mengganggu suasana hafalan dan membuat jadwal harian yang ditepati bersama-sama, walaupun hanya sebentar.
·         Memberikan hadiah bagi anak bila ia memiliki kemajuan dan prestasi dalam menghafal, karena anak pada asalnya sangat menyukai hadiah dan bertambah semangat dengan hadiah. Bahkan ini merupaan salah satu ushlub dalam Al Quran. Allah Taala berfirman: (لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ) [يونس: 26].
·         Bagi anak-anak yang sudah lebih besar, berikan sedikit penjelasan tentang ayat yang sedang atau akan dihafal, karena akan memudahkan ia mengingat.
·         Mengajak anak berlomba baik dengan saudaranya ataupun dengan temannya.
·         Memberikannya mushaf pribadi untuknya, dan melatihnya untuk menjaga dan menyimpannya dengan baik. Karena anak akan merasa senang dengan barang-barang pribadinya.
·         Mengulang-ulang hafalan setidaknya 5 kali dan tidak berpindah sampai benar-benar hafal, sehingga tidak mudah lupa.
·         Menggunakan kemampuan indera anak secara maksimal, baik itu kemampuan auditoris, visual, dan motorik. Dan yang paling berperan  dalam hafalan adalah kemampuan visual, karena berperan sebanyak 78% dalam memperkuat hafalan.
·         Sesekali, bacakan kisah tentang para penghafal belia, seperti Ibnu Abbas , atau Abdullah Ibnu Mas'ud yang dipuji oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam : Barangsiapa yang ingin  membaca Al Qur'an sebagaimana yang Allah turunkan kepada Muhammad maka ambillah bacan Abdullah ibnu Mas'ud.
·         Jeli dengan keadaan fisik anak ketika ia sedang tidak bersemangat menghafal. Jangan langsung menghakimi dengan kata-kata malas, karena mungkin ia sedang sakit atau terlalu lelah
·         Berlaku lembut pada anak bila ia sedang ada hambatan dalam menghafal, dan tidak menghukum dengan kekerasan. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam yang artinya : Tidaklan kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali akan menghiasnya, dan tidaklan ia dicabut dari suatu perkara kecuali akan merusaknya
                                           
          Orang tua harus menyadari keutamaan penghafal Al Qur'an dan orang tua penghafal Al Qur'an, sehingga tidak kendor semangatnya ketika menghadapi kesulitan dalam mendidik anak-anaknya. Bersikap konsisten, disiplin, sabar, cerdik, sekaligus tegas, sangat diperlukan ketika kita ingin anak kita menghafal Al Qur'an sejak dini. Dan, satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah doa orang tua yang tulus dari hati kepada Allah yang Maha Pembuka agar anak-anak kita diberi kemudahan menghafal Al Qur'an

Menyebutkan Dalil Saat Mengajari Anak, Perlukah?

We Share Because We care




Setiap orang tua, tentu ingin selalu mengajarkan  kebaikan  pada anak-anaknya. Akan tetapi, tidak semua orang tua mengetahui cara-cara terbaik untuk menanamkan kebaikan pada anak. ak jarang, sebagian orang tua memilih cara-cara instan ketika menghendaki kebaikan bagi anaknya. Misalnya, sebagian orang tua yang memerintahkan anak dengan alasan agar seperti teman-temannya,  melarang anak dengan alasan  malu dengan teman-teman,  atau dengan mengancam anak.


Cara-cara seperti itu, mungkin bisa diterima oleh anak-anak yang sangat kecil, seperti usia balita, karena mereka belum bisa memahai alasan yang rumit. Akan tetapi, pada anak yang berusia lebih besar, cara-cara ini bisa jadi membosankan dan tidak membentuk kesadaran dan penghayatan yang kuat dalam hatinya. Mungkin ia patuh, tetapi tidak mengetahui dengan pasti alasan mengapa ia diperintah atau dilarang. Salah satu cara menanamkan kesadaran yang kuat dalam diri seorang anak adalah dengan menyebutkan dalil ayat Al Qur'an dan hadist ketika menyuruhnya melakukan sesuatu atau melarangnya dari sesuatu. Allah Ta'ala berfirman dalam surat Az Zumar ayat 9:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الأَلْبَابِ
Artinya: "Katakanlah: apakah sama orang yang megetahui dengan yang tidak mengetahui?. Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal lah yang dapat mengambil pelajaran "
Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa tidak sama orang yang memiliki pengetahuan dengan orang yang tidak memiliki pengetahuan. Begitu pula anak-anak yang mengetahui alasan perbuatannya tidak akan sama dengan anak-anak yang tidak mengetahui alasan perbuatannya.

Kapankah Kita Menyebutkan Dalil dalam Mendidik Anak?
Anak-anak memiliki kemampuan mencerna kata-kata secara bertahap. Anak yang masih terlalu kecil dan belum dapat mencerna kata-kata yang panjang, cukup diajari dengan mengatakan ini boleh dan ini tidak boleh, atau dengan perintah dan larangan dengan bahasa yang sederhana mudah dipahami. Akan tetapi, anak yang mulai besar dan dapat memahami kalimat atau alasan yang panjang, sebaiknya diajari dalil baik ayat Al Qur'an maupun hadist Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dan ini dapat dimulai ketika anak berusia 5 atau 6 tahun.

Beberapa Contoh Dalil Al Qur'an dan Hadist dalam Mendidik Anak
·         Dalil pertama yang harus ditanamkan adalah tentang tauhid kepada Allah, bahwa Allah lah sesembahan yang benar  dan tidak ada sesembahan Yang benar selainNya
     (فاعلم أنَّه لا إله إلاَّ الله
        Artinya: Ketahuilah: sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah (Surat Muhammad: 19)
·         Dalil kedua  adalah wajibnya mengikuti Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Menaati beliau berarti menaati Allah. Karenanya kita juga  harus mencintai beliau,  mengikuti perintah dan menjauhi larangan  beliau shalallahu alaihi wa sallam
Artinya: "Barangsiapa yang menaati rasul, maka ia telah menaati Allah, dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu sebagai penjaga mereka
·         Dalil selanjutnya adalah tentang adab perbuatan-perbuatan yang paling sering dilakukan anak, seperti :
ü  Adab makan dan minum:
Umar Ibnu Abi Salamah radhiyallahu’anhuma berkata, “Saya dulu adalah seorang bocah kecil yang ada dalam bimbingan (asuhan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tangan saya (kalau makan) menjelajah semua bagian nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menegur saya, ‘Wahai bocah bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu.’ Maka demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
ü  Adab berkata-kata :
·         مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47).

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan ketika Menyebutkan Dalil
✋       Ketika menyebutkan dalil, sebaiknya orang tua juga bersikap biasa saja, jangan terlalu serius sehingga anak menganggap dalil itu hanyalah seperti kata-kata yang harus dihafal. Tetapi sampaikanlah dengan lembut dan santai, sambil memandang matanya, dan memegang tangan atau pundaknya, sehingga lebih tertanam dalam hati seorang anak.
✋       Selalu mengulang-ulang, hingga anak benar-benar memahami dan menerapkannya. Titik berat menyebutkan dalil bukanlah sebatas agar anak menghafal ayat atau hadist yang disebutkan, akan tetapi ketika anak konsisiten mengamalkan apa yang terkandung dalam ayat dan hadist tersebut.
✋       Meminta umpan balik dari anak untuk mengetes seberapa jauh ia memahami dalil yang telah kita sampaikan, juga mengecek apakah ia benar atau salah dalam memahami dalil tersebut.
✋       Orang tua harus menjadi contoh pertama dalam mengamalkan dalil yang telah ia ajarkan. Anak yang melihat inkonsistensi antara apa yang dikatakan dan diamalkan oleh orang tuanya akan berkembang menjadi anak yang tidak percaya pada nilai-nilai kebaikan.
Keuntungan Menyebutkan Dalil Dalam Mendidik Anak
1.         Membiasakan anak untuk mengikuti dalil, dan membiasakan anak untuk berfikir ilmiah, tidak sekedar ikut-ikutan, atau hanya ingin dilihat orang, atau malu dengan orang lain. Sehingga ia mengetahui bahwa setiap perbuatannya memiliki landasan yang kuat, bersumber dari Al Qur'an dan sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.
2.         Mengenalkan Allah dan rasulNya sekaligus menanamkan keimanan kepada Allah dan rasulNya, bahwa keduanya harus kita patuhi perintahnya dan kita jauhi larangannya
3.         Mendidik anak untuk mencintai Allah dan Rasul -shallallahu alaihi wasallam.
4.         Memacu orang tua terus  belajar baik dengan mencari maupun memahami dalil-dalil tersebut sebelum menyampaikannya kepada anaknya.
Wallahu a'lam bisshowab


Ayah Ibu, Didiklah Aku Seperti Sahabat

We Share Because We care

Dalam sebuah kelas di sebuah sekolah dasar, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya: " Apa cita-cita kalian bila besar nanti?" Maka, seperti umumnya anak-anak, mereka menjawab ingin menjadi dokter, teknisi, polisi, dan jabatan-jabatan semisalnya, sampai pada seorang murid, ia berkata: aku ingin menjadi seperti sahabat nabi, karena ibuku selalu mengatakan bahwa merekalah orang-orang yang dicintai Allah dan RasulNya."
MasyaAllah!

Ayah dan ibu, pernahkah hal itu terbetik di benak anak-anak kita? Menjadi seperti sahabat nabi radhiyallahu anhum ajma'in. Atau, anak-anak kita lebih mengenal dan mengidolakan tokoh-tokoh non muslim, orang-orang fasik, atau malah tokoh-tokoh fiksi dan tidak mengenal nama-nama para sahabat Nabi mereka? Naudzbillah min dzalik. Bila demikian, maka janganlah mengeluh apabila kita melihat banyak anak-anak kaum muslimin yang sangat sulit menerima ajaran Islam, bahkan bangga dengan syiar-syiar kekafiran dan kefasikan, karena mereka telah mengambil panutan yang salah.
        Ayah ibu, tidakkah kita merindukan generasi-generasi cemerlang yang membawa kembali kebesaran nama Islam? Kalau begitu, marilah kita buka kembali lembaran sejarah paling gemilang dalam Islam, yaitu sejarah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam  dan para shahabat beliau radhiyallahu 'anhum , sebagaimana sabda Rasulullah:“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533). Bila kita buka sirah nabawiyah, kita akan temui bahwa sebagian besar sahabat nabi adalah pemuda, bahkan di antara mereka adalah anak-anak.
        Ayah ibu, mari kita baca dan kisahkan pada anak-anak kita tentang  Ali bin Abi Thalib. Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak, pada usianya  10 tahun. Usia yang sangat belia, tetapi Ali  telah mampu memilih jalan hidupnya sendiri, membedakan yang hak dari yang bathil, melawan tradisi kaum dan keluarganya, tanpa merasa minder karena usianya yang sangat muda. Bandingkan dengan sebagian besar anak-anak zaman ini yang hanya berfikir untuk bermain, sibuk dengan game, play station, atau tontonan hiburan semata. Betapa cerdasnya Ali kecil, yang telah memilih peribadahan kepada Allah semata dan mengambil Rasulullah sebagai teladannya, sementara lingkungannya adalah penyembah berhala dan penghalang dakwah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Itulah Ali, yang selanjutnya menjadi pemuda gemilang dalam Islam dan dikabarkan oleh Rasulullah sebagai orang  yang mencintai Allah dan RasulNya dan dicintai oleh Allah dan RasulNya..

Atau mari kita kisahkan tentang kepahlawanan Usamah bin Zaid, pemuda kecintaaan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, yang telah dipercaya memimpin pasukan kaum muslimin memerangi pasukan Romawi, saat usianya masih 18 tahun! Sungguh prestasi yang luar biasa. Dan Usamah pun mampu membuktikan kepercayaan Rasulullah kepadanya dengan membawa kemenangan bagi kaum muslimin, tanpa ada satu korban pun dari kaum muslimin!

Atau tuturkan kepada anak-anak kita tentang Ibnu Abbas, yang dijuluki tintanya umat ini. Tahukah Anda, berapa usianya ketika menjadi sahabat nabi? Kurang dari 13 tahun! Dalam usia yang sangat belia itulah, Ibnu Abbas banyak mengambil hadist dan pelajaran dari Nabi, sehingga setelah Nabi wafat,  ia meriwayatkan sebanyak 1660 hadist dan menjadi periwayat hadist terbanyak kelima di antara sahabat nabi. Subhanallah! Remaja kecil dengan hati yang sadar, pikiran yang jernih, hafalan yang luar biasa, hujjah yang kuat, dan intuisi yang tajam, ditambah dengan doa Rasulullah untuknya:
«اللهم فقّهه في الدين، وعلّمه التأويل».
" Ya Allah pahamkanlah ia akan ilmu agama, dan ajarilah ia tafsir"

Ayah ibu, kisahkan pula tentang  keberanian para shahabat belia yang ingin menjadi syuhada..Ya, menjadi syuhada. Kata-kata yang mungkin tidak dikenal oleh sebagian besar remaja saat ini, apalagi untuk diimpikan. Tapi  itulah mereka.. Muadz bin Amr Bin Al Jumuuh dan  Muadz Bin Afra'. Dua remaja yang mengikuti perang Badr untuk membunuh Abu Jahal, sampai akhirnya keduanya berhasil membunuh Abu Jahal, fir'aun masa itu. Atau tentang Umair, saudara Sa'ad bin Abi Waqash. Berkata Sa'ad bin Abi Waqash radhiyallahu 'anhu; aku melihat saudaraku Umair bersembunyi di tengah pasukan (sebelum perang Badr), maka aku bertanya: "Ada apa denganmu? " Ia menjawab: "aku takut Rasulullah melihatku dan menolak aku ikut berperang , sedangkan aku ingin berperang, agar  Allah menjadikan aku syuhada'.  Ketika Umair dihadapkan pada Rasulullah, beliau  menolaknya karena usianya yang masih kecil, maka Umair pun menangis...

Atau bukalah kisah Zaid Bin Tsabit, yang ketika mendatangi bertemu Nabi usianya baru mencapai 11 tahun. Ketika itu,  ia telah menghafal 17 surat dalam Al-Qur'an.
Zaid adalah sekretaris bagi Rasulullah, Rasulullah meminta Zaid untuk belajar bahasa Yahudi untuk menuliskan surat-surat beliau kepada kaum Yahudi. Dalam usia yang sangat muda tersebut Zaid mampu menguasai bahasa Yahudi hanya dalam waktu 15 hari!  Setelah itu, Zaid radhiyallahu anhu selalu menuliskan surat dakwah untuk kaum yahudi sekaligus menerjemahkan balasan surat dari kaum yahudi tersebut untuk Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam . Zaid juga memiliki kemampuan menghafal dan menulis yang handal, sehingga ialah salah seorang sahabat yang berperan besar dalam pembukuan Al Qur'an.

Ayah Ibu,  tidakkah terketuk hati kita untuk menjadikan anak-anak kita seperti mereka? Generasi dengan akal yang jernih dan iman yang menancap kokoh di dada, melahirkan sederet sikap yang mulia, sangat jauh dari sikap hura-hura serta mengekor para pemuja dunia..
Tidakkah terketuk hati kita untuk menjadikan mereka panutan bagi putera-puteri kita, ketimbang tokoh-tokoh khayal dan para pelaku maksiat?
Karenanya, mari kita dekatkan generasi muda kita dengan para sahabat, jangan pernah enggan meluangkan waktu untuk membuka dan membacakan sejarah mereka. Didik anak-anak kita untuk mencontoh mereka, atau setidaknya mengenal dan mencintai mereka! 




Ummu Sholih, di Kota nabi

Beginilah Nabi Memperlakuan Anak-Anak

We Share Because We care

Anda sering jengkel dengan anak? Merasa kesal bahkan pusing dengan kelakuan mereka yang terkadang bandel dan tidak mau diam? Ya, perasaan itu pasti pernah kita rasakan, karena faktanya, anak-anak tidak selalu lucu dan menggemaskan, tetapi juga terkadang membuat kita jengkel, sedih,  bahkan marah. Tak jarang, para orang tua kewalahan menghadapi tingkah polah anaknya.

Mendidik anak menjadi baik adalah hal yang tidak mudah dan membutuhkan kerja keras. Allah menjanjikan pahala yang besar bagi orang tua yang berhasil mendidik anaknya menjadi anak yang sholih, di antaranya bahwa pahala anak sholih menjadi pahala yang tidak terputus bagi orang tuanya setelah ia mereka berdua meninggal dunia. Mengingat betapa berharganya seorang anak dalam Islam, sangat tidak mungkin apabila tidak terdapat bimbingan yang lengkap dalam kitab dan sunnah dalam mentarbiyah mereka. Salah satu bimbingan Islam dalam hal ini adalah perilaku Nabi  shalallahu alaihi wasallam terhadap anak-anak. Bagaimanakah Nabi memperlakukan anak-anak pada masanya, sehingga tercetaklah generasi terbaik tiada bandingnya?

Dalam hadist Abu Hurairah, ia berkata : kami pernah sholat Isya' bersama Rasulullah, dan ketika beliau sujud, naiklah Hasan dan Husein di atas punggung beliau, bila beliau mengangkat kepala, beliau menurunkan mereka berdua dengan perlahan dan meletakkan mereka di lantai, ketika beliau sujud, mereka naik lagi ke punggung beliau, hal itu berulang-ulang sampai selesai sholat, kemudian beliau meletakkan mereka di atas paha beliau.
Seorang shahabiyah, Ummu Kholid juga menceritakan masa kecilnya: "aku mendatangi Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersama ayahku, dan aku memakai baju berwarna kuning, .kemudian aku bermain-main cincin kenabian di punggung beliau, maka ayahku melarangku, tetapi Rasulullah berkata: biarkan saja, kemudian  berdoa: "semoga engkau panjang umur", sampai tiga kali.
Beginilah Rasulullah memahami kebutuhan anak-anak terhadap permainan dan senda gurau, dan bukannya membatasi kesenangan mereka dan menuntut mereka bersikap seperti orang dewasa.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam juga sering menggendong anak kecil. Diriwayatkan bahwa beliau menggendong anak kecil sehingga ia kencing di pakaian beliau, maka beliau meminta air dan memerciki pakaiannya. Dalam riwayat yang lain dikisahkan bahwa Nabi mencium Hasan Bin Ali radhiyallahua 'anhuma dan disisinya ada Al Aqra' Bin Harits, maka ia berkata: "Sesungguhnya aku memiliki 10 orang anak dan aku tidak pernah mencium mereka. Maka Rasulullah pun memandangnya dan berkata: من لا يَرحم لا يُرح (Siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayang").
Beginilah Nabi mengasihi dan menunjukkan rasa cintanya pada anak-anak, bahkan memperingatkan orang yang tidak mau menunjukkan cintanya pada mereka

        Kadang-kadang beliau shalallahu 'alaihi wa sallam memangku cucu beliau, Hasan Bin Ali dan Usamah Bin Zaid bersama-sama sambil memeluk mereka dan berkata: "ya Allah sayangi mereka karena sesungguhnya aku menyayangi mereka". Dalam riwayat Imam Ahmad, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangannya di atas dada atau di antara kedua bahu Ibnu Abbas sembari berdoa: "Ya Allah, berilah ia pemahaman ilmu agama dan ajarilah ia tafsir".
        Beginilah Nabi mendoakan anak-anak dengan kebaikan dan bukan sebaliknya mengucapkan kata-kata laknat untuk mereka.

Beliau juga bermain dan berbincang-bincang dengan anak-anak, walaupun dalam dalam hal tampak sepele, sekedar untuk menyenangkan mereka. Dari Anas radhiyallahu 'anhu ia berkata: "sesungguhnya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, aku memiliki adik yang bernama Abu Umair dan ia memiliki seekor burung kecil yang sering ia mainkan, maka apabila Rasulullah datang ke rumahku ia berkata pada adikku: "ya Aba Umair, apa yang dilakukan nughair (burung kecil)?". Rasulullah juga mendudukkkan anak-anak seperti Abdullah Ibnu Abbas dan Abdullah Ibnu Umar dalam majelis para sahahabat, mengajari  dan berdiskusi bersama mereka,seperti layaknya shahabat yang lain, dan beliau membonceng Abdullah Ibnu Abbas di atas kendaraannya sambil menasehati dengan bahasa yang mudah dicerna dan penuh makna: "wahai anak kecil,jagalah Allah niscaya ia akan menjagamu".
Beginilah Nabi menghargai dan menghormati seorang anak dan menumbuhkan kepercayaan diri mereka, bukan sebaliknya, mengabaikan kehormatan dan keberadaan mereka, serta meremehkan mereka.

Berkata Umar bin Abi Salamah: "aku adalah anak kecil di rumah Nabi,maka ketika makan,  tanganku menjelajah di atas nampan, maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku dengan lembut: "wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu". Berkata pula Anas Bin Malik: "pernah suatu hari Rasulullah menyuruhku keluar untuk suatu kebutuhan, maka aku berkata: "Demi Allah saya tidak mau pergi, padahal sebenarnya aku mau melakukan apa yang disuruh oleh Nabi, maka aku pun keluar, sampai aku melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar, maka Rasulullah (mencariku dan) memegang bajuku dari belakang, maka ketika aku menoleh , kulihat beliau tertawa sambil berkata: "ya Unais, apa kamu pergi seperti yang aku suruh?" Aku menjawab: iya , wahai Rasulullah. Sungguh demi Allah, aku telah melayani beliau selama 9 tahun, dan aku tidak pernah melihat beliau berkata terhadap apa-apa yang aku kerjakan: "kenapa kamu melakukan itu?", atau terhadap sesuatu yang tidak aku kerjakan : mengapa kamu tidak melakukan itu ?" (tidak memarahi).
Beginilah Nabi bersikap sabar terhadap kenakalan dan kekurangan adab anak-anak, menasehati mereka tanpa teriakan, celaan, apalagi kekerasan.

Ada pula riwayat yang tak kalah mengagumkan, dalam suatu majelis Rasulullah, duduk di sebelah kanan beliau seorang anak kecil sedangkan di kiri beliau orang dewasa, maka ketika beliau shalallahu alaihi wa sallam hendak memberi minum (karena kebiasaan Rasulullah selalu memulai dari kanan beliau), Rasulullah berkata pada anak itu: wahai anak kecil, apakah kamu memberi izin untuk memulai dari orang yang lebih tua? Maka anak itu menjawab: "Demi Allah, saya tidak mau bagianku diambil seorang pun. Maka Rasulullah pun memberikan haknya.
Beginilah Rasulullah menghormati hak setiap orang, walaupun ia seorang anak kecil, meminta izinnya, dan tidak menyia-nyiakannya.


Beginilah kasih sayang dan perhatian beliau terhadap anak-anak, padahal beliau adalah orang yang paling mulia, paling sibuk, memiliki kedudukan paling tinggi, tetapi beliau tetap meluangkan waktu untuk memperhatikan pendidikan dan memelihara kedekatan dengan anak-anak, menunjukkan cinta dan penghormatan, serta mengajarkan kepada orang dewasa bahwa anak-anak sangat butuh kelemah lembutan dan kesabaran. Maka, akankah kita meneladani beliau dalam hal ini?


Artikel Terbaru

Fiqih Muyassar : SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

We Share Because We care Ringkasan Materi Kajian Ummahaat dari Kitab Fikih Muyassar Disampaikan oleh Ust. Rizqo, B.A. di Ma’had Madinat...